Background Image

ENDURANCE WORSHIP
(Penyembahan yang Bertahan)
Pdt. Lewi Katiandagho, M.Th.

Musim Thrusting and Thriving hanya akan menjadi sekadar kabar sukacita jika tidak direspons dengan iman dan tindakan yang nyata dan berani. Ketika masalah datang menghadang, pastikan fokus kita hanya kepada Tuhan dan apa yang diperintahkan-Nya. Firman Tuhan dan Roh Kudus menjadi landasan kita untuk membangun doa, puji, dan sembah.

Kita harus mempersembahkan hidup kita kepada Tuhan dengan penyembahan yang bertahan (Endurance Worship), yaitu penyembahan yang tahan uji dan teruji, terus berlanjut walau dalam kesulitan, dan tidak tergoyahkan karena iman yang teguh.

Mengapa kita perlu melakukan penyembahan yang terus bertahan?
1. Tuhan menghendaki penyembahan murni
Ketika menghadapi padang gurun yang panjang dalam hidup, tidak ada alasan bagi kita untuk berhenti menyembah Tuhan. Penyembahan yang bukan hanya sekadar bernyanyi, angkat tangan, dan lompat-lompat, melainkan penyembahan atas dasar kita sudah dibebaskan oleh Tuhan dalam hal tubuh, jiwa, dan roh.

23) Tetapi saatnya akan datang dan sudah tiba sekarang, bahwa penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran; sebab Bapa menghendaki penyembah-penyembah demikian. (Yohanes 4:23)

Penyembah benar bukan berarti tidak pernah salah atau berdosa, melainkan karena sudah dibenarkan oleh Tuhan. Penyembahan yang benar bukan soal cara menyembah yang benar, melainkan posisi hidup kita di hadapan Tuhan, alasan kita menyembah Tuhan, dan pengenalan kita akan Tuhan sudah benar, yaitu bahwa kita adalah anak-anak-Nya melalui pengorbanan dan karya keselamatan yang dikerjakan-Nya bagi kita, dan bahwa Dialah satu-satunya Allah yang layak dipuji dan disembah.

Masalah terlihat besar ketika iman kita goyah dan tanah perjanjian hanya menjadi cerita belaka. Jika iman kita teguh, maka masalah dapat kita lihat sebagai peluang.

Jangan biarkan diri kita terpengaruh oleh situasi dan kondisi, tetapi biarlah firman Tuhan dan Roh Kudus yang memenuhi dan menuntun kita serta mengubahkan situasi dan kondisi tersebut. Itulah penyembah yang tetap bertahan. Generasi yang takut kehilangan Mesir tidak akan menikmati Kanaan.

2. Penyembahan dari iman yang teguh dan hati yang bersyukur
Prinsip penyembahan tanpa syarat mukjizat, lahir dari hati yang mengasihi Tuhan dan pengenalan akan Tuhan (Daniel 3:16-18). Prinsip hidup kita menggambarkan arti penyembahan kita. Penyembahan yang bertahan akan tetap meninggikan Tuhan.

Ketika situasi dan kondisi tidak sesuai harapan dan doa, iman sejati memilih untuk tetap bersukacita sebab sumber hidup bukan pada berkat yang terlihat, melainkan pada Tuhan yang tetap memegang kendali dan masa depan kita.

Penyembahan yang benar dan kuat lahir dari kesadaran identitas sebagai anak Tuhan, dibangun oleh pengenalan yang benar akan Tuhan dan diri sendiri, serta dinyatakan melalui hati yang tunduk, tulus, dan taat.

4) Padahal Engkaulah yang Kudus yang bersemayam di atas puji-pujian orang Israel. (Mazmur 22:4)

Kata ‘puji-pujian’ dalam bahasa Ibrani adalah ‘TEHILLAH’ yang artinya pujian yang dinyatakan dengan suara, nyanyian, dan sorak, yang membuat Allah bertakhta, membalikkan suasana rohani, dan menggerakkan kemenangan.

Kita punya pilihan untuk percaya dan dibatasi oleh fakta, atau menyangkali fakta dan dimerdekakan oleh kebenaran firman.

28) Jadi, karena kita menerima kerajaan yang tidak tergoncangkan, marilah kita mengucap syukur dan beribadah kepada Allah menurut cara yang berkenan kepada-Nya, dengan hormat dan takut. (Ibrani 12:28)

Kata ‘mengucap syukur’ dalam KJV adalah ‘have grace’ yang artinya memiliki anugerah. Kemudian dalam bahasa Yunani adalah ‘echōmen charin’ yang artinya memiliki, memegang, dan hidup di dalam anugerah.

Jadi, arti mengucap syukur dalam Ibrani 12:28 bukan hanya sekadar ucapan mulut (terima kasih atau kami bersyukur), tetapi:
1. Sikap hati yang sadar akan anugerah Tuhan (kesempatan kedua).
2. Hidup yang berdiri di atas kasih karunia Tuhan.
3. Merespons dengan penuh hormat kepada Tuhan.

Kita tidak sedang berjalan di jalan yang datar, melainkan di jalan yang terjal. Oleh karena itu, pastikan kita bangkit (arise) dan terus mendorong maju dengan iman yang teguh (keep pushing). Kita akan menembus penghalang dan bertumbuh. Thrusting and Thriving bersama Tuhan menerobos kemustahilan!

Tuhan tidak mencari penyembahan yang profesional, tetapi penyembahan yang bertahan. Dan dari penyembahan yang bertahan, Tuhan membangkitkan pujian yang berkemenangan (Tehillah)!

You can also watch the sermon here


The Year of Movement & Miracles
 
Author
Pdt. Dr. Leonardo A. Sjiamsuri, MBA., M.Th,

Ps. Leonardo A. Sjiamsuri is the founder and senior pastor of Glory of Zion Church (Gereja Kemuliaan Sion) – Light to the Nations. He is also one of the founder and elder of Glory of Zion Church (Gereja Kemuliaan Sion). He got the vision from God to start and build Glory of Zion Church – Light to the Nations in 2006.